Kamis, 01 November 2012

Sistem Informasi Psikologi 6 (Desain Sistem Pakar)


Desain Sistem Pakar

Sistem Pakar Mengenai Gangguan Fobia
Dasar Teori Fobia
            Gangguan anxietas didiagnosis jika secara jelas terdapat perasaan cemas yang dialami secara subjektif. DSM-IV-TR mengajukan enam katagori pertama: fobia, gangguan panik, gangguan anxietas menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pascatrauma, dan gangguan stres akut. Terkadang seseorang yang menderita satu gangguan anxietas juga memenuhi kriteria diagnostik gangguan lain, sebuah situasi yang disebut komorbiditas.
Para psikopatologi mendefinisikan fobia sebagai penolakan yang menganggu yang diprantarai oleh rasa takut yang tidak proporsional dengan bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu dan diakui oleh si penderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar. Dengan kata lain, fobia adalah ketakutan terhadap suatu situasi atau obyek yang jelas (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada saat kejadian tidak membahayakan.
Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.
            Fobia juga dapat dikatakan sebagai kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu. Fobia dapat berkembang dalam kaitannya dengan berbagai objek atau situasi, seperti takut ular, tempat tertutup, air, atau terbang di pesawat. Beberapa istilah yang paling dikenal adalah claustrophobia, yaitu ketakutan pada ruang tertutup. Agoraphobia, adalah ketakutan pada tempat umum. Acrophobia, adalah ketakutan pada ketinggian. Animal phobia, adalah ketakutan pada jenis binatang tertentu. Blood phobia, adalah ketakutan pada darah.
Pada kebanyakan kasus, fobia banyak dialami oleh wanita dibandingkan dengan pria. Fobia sendiri dibagi menjadi dua macam kategori yaitu fobia spesifik, agrofobia dan fobia sosial:
Fobia Spesifik
Fobia spesifik adalah ketakutan yang beralasan yang disebabkan oleh kehadiran atau antisipasi suatu objek atau situasi spesifik. Lebih ringkasnya fobia ini disebabkan oleh obyek atau situasi spesifik. DSM-IV-TR membagi fobia berdasarkan sumber ketakutannya: darah, cedera, dan penyuntikan, situasi (seperti pesawat terbang, lift, ruang tertutup), binatang, dan lingkungan alami (seperti ketinggian, air).
Agorafobia
Fobia yang didefinisikan dalam Diagnostic and Statistical Manual (DSM-IV) dari American Psychiatric Association, sebagai rasa takut berada di tempat atau situasi, ketika meloloskan diri dianggap sulit atau memalukan, atau ketika pertolongan mungkin tidak diperoleh jika ia mengalami serangan panik atau gejala mirip panik.

Fobia Sosial
Fobia sosial adalah ketakutan menetap dan tidak rasional yang umumnya berkaitan dengan keberadaan orang lain. Individu yang mengalami fobia sosial biasanya menghindari situasi yang membuat dia merasa dievaluasi, mengalami kecemasan, atau melakukan perilaku yang tidak seharusnya.

Sistem Pakar Mengenai Gangguan Fobia

Data I
Gejala-gejala phobia
W. F. Maramis menjelaskan diantara gejala-gejala atau simptom-simptom fobia adalah rasa takut yang diderita oleh klien dapat mengakibatkan perasaan seperti akan pingsan, rasa lelah, palpitasi, berkeringat, mual, tremor, dan panik. Menurut A. Supratiknyo, biasanya disertai simptom-simptom lain seperti : pusing-pusing, sakit punggung, sakit perut dan sebagainya.
Bila seseorang yang menderita fobia melihat atau bertemu atau berada pada situasi yang membuatnya takut (phobia), gejalanya adalah sebagai berikut: Jantung berdebar kencang, kesulitan mengatur napas, dada terasa sakit, wajah memerah dan berkeringat, merasa sakit, gemetar, pusing, mulut terasa kering, merasa perlu pergi ke toilet, merasa lemas dan akhirnya pingsan.
Referensi lain menyebutkan ada beberapa gejala yang dapat menunjukkan fobia, seperti yang disebutkan oleh American Psychiatric Association: Perasaan teror, panik, horor, atau ketakutan, pemahaman diri bahwa rasa takut melampaui bahaya yang sebenarnya, ketakutan yang begitu ekstrem sehingga mengganggu pikiran dan tindakan, gejala fisik seperti rasa sesak napas, jantung berdetak cepat atau gemetar, keluar dari situasi yang selama ini memicu fobia, seperti terbang.

Data II
Kriteria DSM-IV-TR untuk fobia 
(1) Ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi
(2) Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
(3) Orang tersebut menyadari ketakutannya tidak realistis
(4) Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens




http://www.yulyantari.com/tutorial/gambar/1.1.jpg
Dalam sistem pakar mengenai gangguan fobia ini digunkan sistem program Parry, karena sistem ini mesimulasikan seorang pasian. Contohnya adalah seorang klien yang terkena gangguan paranoid. Mereka memilih seorang paranoid sebagai subyek karena beberapa teori menyebutkan bahwa proses dan sistem paranoia memang ada, perbedaan respon psikotis dan respon normalnya cukup hebat, dan mereka bisa menggunakan penilaian dari seorang ahli untuk mengecek keakuratan dari kemampuan pemisahan antara respon simulasi  komputer dan respon manusia.
Input
Klien mengalami ketakutan terhadap suatu situasi atau objek yang jelas (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada saat kejadian tidak membahayakan. Contohnya, takut terhadap binatang anjing. Klien tidak pernah berani keluar dari rumah dan memiliki ketakutan yang berlebihan, pingsan, rasa lelah, berkeringat, mual, dan panik karena selalu ada anjing yang bermain didepan rumahnya. Sehingga menganggu aktivitas sehari-harinya. Awal mula klien mengalami ketakutan karena klien pernah digigit oleh anjing ketika hendak pergi dari rumah. Mulai dari peristiwa tersebut klien mengalami ketakutan yang luar biasa terhadap binatang anjing.
“Bagaimana mengobati atau menghilangkan gangguan atau ketakutan terhadap binatang anjing tersebut??”
Proses
Basis Pengetahuan (Knowledge Base), berisi fakta-fakta, teori, pemikiran, dan hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Mesin Inferensi (Inference Engine), yaitu kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan pengalaman atau aturan.
Output (Diagnosis dan Penanganan atau Treatment)
Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dialami dan gejala-gejala yang ditimbulkan nya. Gejala-gejala itu dapat mengarah kepada gangguan “fobia”.
Menurut gejala-gejala fobia dan kriteria DSM-IV-TR untuk fobia yang telah dijelaskan dalam pembahasan diatas, maka klien didiagnosis mengalami “Gangguan Fobia” tersebut.
Penanganan Penderita Fobia
Dalam penanganan penderita fobia, penderita tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri sehingga haruslah dibantu oleh terapis yang kompeten dibidangnya. Banyak sekali terapi yang dapat dilakukan. Berikut adalah beberapa pendekatan terapi yang bisa dilakukan.
a.    Pendekatan Psikoanalisa
1) Pengungkapan kecemasan yang direpresi
2) Penyelesaian konflik masa kanak-kanak
b. Pendekatan Behavioral
1)    Systematic desensitization, yaitu individu yang menderita fobia membayangkan serangkaian situasi yang semakin menakutkan sementara ia berada dalam kondisi rileks. Dilakukan exposure bersifat ringan. Klien yang takut akan anjing disuruh rileks dan membayangkan berada ditempat cagar alam yang indah dimana si penderita didatangi oleh anjing-anjing lucu dan jinak.
2)    Flooding, yaitu teknik terapeutik dimana klien dipaparkan dengan sumber fobia dalam intensitas penuh. Klien yang takut kepada anjing (cynophobia), dimasukkan ke dalam ruangan dengan beberapa ekor anjing jinak, sampai ia tidak ketakutan lagi.
3)    Modelling, yaitu teknik lain yang menggunakan pemaparan terhadap berbagai situasi yang ditakuti. Dalam terapi modeling, klien yang ketakutan melihat orang lain yang berinteraksi dengan objek melalui film atau secara langsung fobik tanpa rasa takut, contohnya, memegang ular yang tidak berbisa atau mengusap-usap anjing yang jinak.
4)    Pendekatan Kognitif yaitu Eliminasi irational belief, dengan cara menghapuskan pemikiran yang irasional.
5)    Pendekatan Biologis yaitu dengan menggunakan obat-obatan seperti sedative, transquilizer, dan anxyolitic.
6)    Hypnotheraphy, klien diberi sugesti-sugesti untuk menghilangkan fobia.
7)    Reframing, klien disuruh membayangkan kembali menuju masa lampau dimana permulaannya klien mengalami fobia, ditempat itu dibentuk suatu manusia baru yang tidak takut lagi pada fobia nya.
Penanganan penderita fobia juga dapat dilakukan dengan:
a.Terapi berbicara.
Perawatan ini seringkali efektif untuk mengatasi berbagai fobia. Jenis terapi bicara yang bisa digunakan adalah:
1. Konseling: konselor biasanya akan mendengarkan permasalahan seseorang, seperti ketakutannya saat berhadapan dengan barang atau situasi yang membuatnya fobia. Setelah itu konselor akan memberikan cara untuk mengatasinya.
2.    Psikoterapi: seorang psikoterapis akan menggunakan pendekatan secara mendalam untuk menemukan penyebabnya dan memberi saran bagaimana cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
3.    Terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioural Therapy/CBT): yaitu suatu konseling yang akan menggali pikiran, perasaan dan perilaku seseorang dalam rangka mengembangkan cara-cara praktif yang efektif untuk melawan fobia.
b. Terapi pemaparan diri (Desensitisation).
Orang yang mengalami fobia sederhana bisa diobati dengan menggunakan bentuk terapi perilaku yang dikenal dengan terapi pemaparan diri. Terapi ini dilakukan secara bertahap selama periode waktu tertentu dengan melibatkan objek atau situasi yang membuatnya takut. Secara perlahan-lahan seseorang akan mulai merasa tidak cemas atau takut lagi terhadap hal tersebut. Kadang-kadang dikombinasikan dengan pengobatan dan terapi perilaku.
c. Menggunakan obat-obatan
Penggunaan obat sebenarnya tidak dianjurkan untuk mengatasi fobia, karena biasanya dengan terapi bicara saja sudah cukup berhasil. Namun, obat-obatan ini dipergunakan untuk mengatasi efek dari fobia seperti cemas yang berlebihan.
Terdapat 3 jenis obat yang direkomendasikan untuk mengatasi kecemasan, yaitu:
1. Antidepresan: obat ini sering diresepkan untuk mengurangi rasa cemas, penggunaannya dizinkan untuk mengatasi fobia yang berhubungan dengan sosial (social phobia).
2. Obat penenang: biasanya menggunakan obat yang mengandung turunan benzodiazepines. Obat ini bisa digunakan untuk mengatasi kecemasan yang parah, tapi dosis yang digunakan harus serendah mungkin dan penggunaannya sesingkat mungkin yaitu maksimal 4 minggu. Ini dikarenakan obat tersebut berhubungan efek ketergantungan.
3. Beta-blocker: obat ini biasanya digunakan untuk mengobati masalah yang berhubungan dengan kardiovaskular, seperti masalah jantung dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Karena berguna untuk mengurangi kecemasan yang disertai detak jantung tak beraturan.

“Setelah mendapatkan dan menjalankan penanganan atau treatment, gangguan terhadap ketakutan binatang anjing terhadap klien dapat disembukan atau dihilangkan. Kini klien sudah dapat dikatakan sembuh dari gangguan fobia nya terhadap binatang anjing. Kini klien dapat melakukan aktivitas nya kembali tanpa terganggu dengan gangguan yang dahulu pernah dialaminya.”

Sumber:
Davison G C., Neale J M., dan Kring A M. (2010). Psikologi abnormal. Jakarta: Rajawali Pers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar