Selasa, 09 November 2010

PERAN ORANG TUA DALAM MEMBANGKITKAN MOTIVASI BERPRESTASI ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

Keluarga adalah tempat untuk belajar dan bersosialisasi dirumah. Hal yang paling utama adalah peran orang tua bagi anak-anaknya dalam membangkitkan motivasi berprestasi baik dalam bidang akademik maupun dalam bidang non akademik. Orangtua memegang peranan penting khususnya pada anak karena akan mencegah seorang anak terjerumus oleh lingkungan dan teman sebaya yang memberikan pengaruh negative.
Pada masa anak memasuki usia remaja, ingin dirinya diterima sebagai individu yang memiliki wawasan yang sama dengan orang dewasa lainnya, dan semakin banyak wawasan yang dimiliki oleh seorang anak maka kebutuhan anak untuk dihargai akan menumbuhkan rasa kepercayaan diri. Semakin tinggi rasa percaya diri seorang anak maka ia akan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana anak itu berada.
Orang tua merupakan pendidik utama yang ada dalam sebuah keluarga bagi anak-anaknya. Karena dari orang tua anak-anak sudah mendapatkan pendidikan yang sangat mendasar dalam hal apapun. Orang tua harus memiliki peran yang baik bagi anak-anaknya untuk dapat berprestasi.
Orang tua yang baik harus dapat membangkitkan motivasi atau dorongan berprestasi pada anak-anaknya. Motivasi sangat penting artinya dalam kegiatan belajar, sebab adanya motivasi mendorong semangat belajar dan sebaliknya kurang adanya motivasi akan melemahkan semangat belajar. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar; seorang siswa yang belajar tanpa motivasi (atau kurang motivasi) tidak akan berhasil dengan maksimal.






BAB II
PEMBAHASAN

A. DEINISI MOTIVASI
Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi yang pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara meotivasi dari dalam ialah motivasinya muncul dari inisiatif diri kita.
Motivasi Diri adalah sebuah kemampuan kita untuk memotivasi diri kita tanpa memerlukan bantuan orang lain. Kita memiliki kemampuan untuk mendapatkan alasan atau dorongan untuk bertindak. Proses mendapatkan dorongan bertindak ini pada dasarnya sebuah proses penyadaran akan keinginan diri sendiri yang biasanya terkubur. Setiap orang memiliki keinginan yang merupakan dorongan untuk bertindak, namun seringkali dorongan tersebut melemah karena faktor luar. Melemahnya dorongan ini bisa dilihat dari hilangnya harapan dan ketidak berdayaan.
B. TEORI MOTIVASI
Banyak orang yang mencoba menjelaskan bagaimana semua motivasi bekerja. Berikut adalah beberapa diantaranya:
Teori Insentif. Yaitu teori yang mengatakan bahwa seseorang akan bergerak atau mengambil tindakan karena ada insentif yang akan dia dapatkan. Misalnya, Anda mau bekerja dari pada sampai sore karena Anda tahu bahwa Anda akan mendapatkan intensif berupa gaji. Jika Anda tahu akan mendapatkan penghargaan, maka Anda pun akan bekerja lebih giat lagi. Yang dimaksud insentif bisa tangible atau intangible. Seringkali sebuah pengakuan dan penghargaan, menjadi sebuah motivasi yang besar.
Dorongan Bilogis. Maaf, yang dimaksud bukan hanya masalah seksual saja. Termasuk didalamnya dorongan makan dan minum. Saat ada sebuah pemicu atau rangsangan, tubuh kita akan bereaksi. Sebagai contoh, saat kita sedang haus, kita akan lebih haus lagi saat melihat segelas sirup dingin kesukaan Anda. Perut kita akan menjadi lapar saat mencipum bau masakan favorit Anda. Bisa dikatakan ini adalah dorongan fitrah atau bawaan kita sejak lahir untuk mempertahankan hidup dan keberlangsungan hidup.
Teori Hirarki Kebutuhan Teori ini dikenalkan oleh Maslow sehingga kita mengenal hirarki kebutuhan Maslow. Teori ini menyajikan alasan lebih lengkap dan bertingkat. Mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kemanan, kebutuhan akan pengakuan sosial, kebutuhan penghargaan, sampai kebutuhan akan aktualisasi diri.
Takut Kehilangan vs Kepuasan. Teori ini mengatakan bahwa apda dasarnya ada dua faktor yang memotivasi manusia, yaitu takut kehilangan dan demi kempuasan (terpenuhinya kebutuhan). Takut kehilangan adalah adalah ketakutan akan kehilangan yang sudah dimiliki. Misalnya seseorang yang termotivasi berangkat kerja karena takut kehilangan gaji. Ada juga orang yang giat bekerja demi menjawab sebuah tantangan, dan ini termasuk faktor kepuasan. Konon, faktor takut kehilangan lebih kuat dibanding meraih kepuasan, meskipun pada sebagian orang terjadi sebaliknya.
Kejelasan Tujuan Teori ini mengatakan bahwa kita akan bergerak jika kita memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul bahwa seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi jika dia memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah apa yang disebut dengan Goal Setting (penetapan tujuan).
C. JENIS-JENIS DAN FUNGSI MOTIVASI
1. Motivasi intrinsik, yang timbul dari dalam diri individu, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperolah informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, keinginan diterima oleh orang lain.
2. Motivasi ekstrinsik, yang timbul akibat adanya pengaruh dari luar individu. Sperti hadiah, pujian, ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian orang mau melakukan sesuatu.

Fungsi-fungsi motivasi adalah:
1. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat. Motivasi berfungsi sebagai pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.
2. Menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula jalan yang harus ditempuh.
3. Menyeleksi perbuatan. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan.

D. PERAN ORANG TUA

Ada beberapa peranan orang tua untuk menumbuhkan motivasi belajar anak, sebagai berikut:
Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Ajarkan kepada anak cara belajar yang baik, dengan cara ini anak diharapkan untuk lebih termotivasi dalam mengulan-ulang pelajaran ataupun menambah pemahaman dengan buku-buku yang mendukung. Memberikan perhatian maksimal ke anak, khususnya bagi mereka yang secara prestasi tertinggal oleh siswa lainnya. Dan sudah sepantasnya anak yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
Memberikan hadian untuk anak-anaknya yang berprestasi. Hal ini akan sangat memacu anak untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi anak yang belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli anak yang telah berprestasi disekolahnya, baik dalam akademik maupun non akademik. Hadiah deberikan untuk memberikan rasa senang kepada anak, sebab merasa dihargai karena prestasinya yang baik. Hukuman diberikan kepada anak yang mendapatkan nilai buruk. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar anak tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Hukuman di sini hendaknya yang mendidik, seperti menghafal, mengerjakan soal, ataupun membuat rangkuaman. Hendaknya jangan yang bersifat fisik, seperti dipukul atau dicubit.
Para orang tua juga harus menemani atau mendampingi anak saat belajar, memberi pengarahan, peringatan, dan melakukan kontrol atas aktivitas anak, memberi dukungan kepada anak, memberi penghargaan terhadap anak, menjadi teladan bagi anak-anak.
Motivasi memegang peranan yang amat penting dalam belajar, Maslow (1945) dengan teori kebutuhannya, menggambarkan hubungan hirarkhis dan berbagai kebutuhan, di ranah kebutuhan pertama merupakan dasar untuk timbul kebutuhan berikutnya. Jika kebutuhan pertama telah terpuaskan, barulah manusia mulai ada keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang selanjutnya.


BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan dari pembahasan diatas bahwa peran orang tua dalam membangkitkan motivasi berprestasi anak sangat perlu dilakukan mulai dari yang akedemik maupun non akademik. Anak yang memiliki nilai atau prestasi yang baik bukan saja karena anak itu pintar atau rajin, disamping itu ada orang tua yang selalu memotivasi dan memberikan semangat untuk anaknya.
Faktor dominan dari motivasi berprestasi pada anak adalah peran orang tua yang utuh dan memberikan kasih sayang, komunikasi antara orang tua dengan anak yang baik, dan dukungan dari orang tua yang membuat remaja menjadi lebih percaya diri untuk berprestasi.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

http://www.psb-psma.org/content/blog/pengaruh-pola-asuh-anak-terhadap-prestasi-siswa
http://nadhirin.blogspot.com/2010/01/dalam-dunia-pendidikan-terutama-dalam_17.html
http://www.squidoo.com/definisi-motivasi
http://www.wikipedia.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar